Kisah Cinta Laela dan Majnun yang Romantis - Jalaludin Rumi
Ada orang yang bertanya apa itu cinta, bagaimana itu cinta. Katanya Rumi, "Jangan tanya makna cinta, kalau engkau sudah menjadi seperti aku, maka engkau akan tahu." Saat cinta memanggilmu, engkau akan berkisah tentang itu. Cinta itu penting, modus penting dalam hidup ini adalah jalani saja.
Katanya Rumi lagi, "tidak terlalu penting engkau bertanya apa definisi cinta, ciri-ciri cinta, jalani saja nanti engkau akan paham." Tidak perlu ke toko buku atau keperpustakaan untuk mengetahui apa 'makna' dari cinta. Cinta itu dunia rasa, sedangkan rasa tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dijalani.
Jika membahas tentang cinta, tidak terlepas dari kisah cinta Laela Majnun. Ada beberapa kisah cinta Laela dan Majnun yang menurut penulis ini romantis. Majnun adalah anaknya seorang bangsawan yang jatuh cinta kepada Laeala. Namun dalam kisah percintannya tidak berjalan dengan mulus.
Suatu ketika Majnun jatuh sakit, badannya lemah, akhirnya dia berkunjung ke thabib untuk berobat. Ketika dalam perawatan, thabib/dokter tersebut berkata kepada majnun, "Majnun, ini ada bagian tubuhmu yang harus dibedah sedikit untuk mengeluarkan darahnya."
Suatu ketika Majnun jatuh sakit, badannya lemah, akhirnya dia berkunjung ke thabib untuk berobat. Ketika dalam perawatan, thabib/dokter tersebut berkata kepada majnun, "Majnun, ini ada bagian tubuhmu yang harus dibedah sedikit untuk mengeluarkan darahnya."
Mendengar perkataan dokter tersebut, majnun menjawab "Oh jangan, saya takut." Sang dokter kaget, katanya "Loh kamu kan sudah lama menjadi orang gila, sudah sering keluar-masuk hutan, bahkan sampai bertemu dengan macan. Masa dibedah sedikit saja kamu takut."
Majnun menjawab, "Oh enggak, saya takut Laeala terluka." Dokter tersebut makin heran, katanya "Loh Laela mana? Kan yang dibedah tubuhmu, bukan tubuhnya Laela." katanya Majnun lagi, "Oh tidak, karena disetiap jengkal tubuhku, dan disetiap tetes darahku sudah tercampur oleh Leala. Aku sudah tidak dapat membedakannya lagi."
Jadi maksud dari kisah itu adalah ketika seseoranag sedang jatuh cinta, dia sudah kehilangan dirinya, yang ada hanya yang dicintai. Bahkan dirinya sendiri ketika sedang terluka sudah tidak peduli, yang terpenting jangan sampai orang yang dicintainya itu terluka. Katanya Rabiah, "Tidak peduli hukumnya, yang ada hanya ego yang lenyap, yang dipikir hanya dia".
Selain kisah diatas, maih ada kisah perjuangan Majnun ketika ia ingin bertemu dengan Laela.
Ketika Majnun ingin bertemu dengan Laela yang kala itu Laela telah menjadi istrinya orang lain. Saat itu ia diam-diam datang kerumahnya Laela dan jangan sampai ketahuan oleh orang tuanya, karena jika ketahuan ia akan dipukuli. Untuk itu dia mensiasatinya dengan cara jalan bareng dengan segerombolan domba, ia merangkak bersama domba hanya sekedar untuk melihat rumahnya Laela.
Jalaludin Rumi ingin bilang bahwa tanda-tanda seseorang jatuh cinta beneran adalah sudah tidak terlintas mencari untungnya apa dan bagaimana terhadap orang yang kamu anggap cintai. Orang yang sudah jatuh cinta disuruh apa saja ia pasti akan melaksanakannya, tanpa memikirkan balasan. Begitu juga dengan Allah, ketika Allah merintah untuk melakukan shalat dhuha, jika kamu memang cinta, laksanakan saja, tidak perlu berfikir untungnya apa shalat dhuha atau jika shalat dhuha maka akan mendapat rezeki segini. kalau begitu berarti masih 'dagang' sama Allah. Tidak salah memang, tapi itu belum termasuk 'cinta'. Kalau sudah cinta, maka sudah tidak mikir lagi balasannya apa, yang penting 'dia' bahagia, karena yang kamu ingat hanyalah dia.
Jalaludin Rumi ingin bilang bahwa tanda-tanda seseorang jatuh cinta beneran adalah sudah tidak terlintas mencari untungnya apa dan bagaimana terhadap orang yang kamu anggap cintai. Orang yang sudah jatuh cinta disuruh apa saja ia pasti akan melaksanakannya, tanpa memikirkan balasan. Begitu juga dengan Allah, ketika Allah merintah untuk melakukan shalat dhuha, jika kamu memang cinta, laksanakan saja, tidak perlu berfikir untungnya apa shalat dhuha atau jika shalat dhuha maka akan mendapat rezeki segini. kalau begitu berarti masih 'dagang' sama Allah. Tidak salah memang, tapi itu belum termasuk 'cinta'. Kalau sudah cinta, maka sudah tidak mikir lagi balasannya apa, yang penting 'dia' bahagia, karena yang kamu ingat hanyalah dia.

Belum ada Komentar untuk "Kisah Cinta Laela dan Majnun yang Romantis - Jalaludin Rumi"
Posting Komentar