Bagaimana Cinta yang Dewasa Itu? - Erich Fromm
Cinta yang dewasa - Perbedaan cinta yang dewasa dengan kekanak-kanakan, katanya Erich Fromm:
Infantile loves follow the principle: " I love because i am loved". Mature love follows the principle: "I am loved because i love."
Cinta yang kekanak-kanakan itu prinsipnya aku mencintai karena aku dicintai duluan. Tapi cinta yang dewasa atau cinta yang matang, "aku mencintai tanpa didahului dicintai". Cinta yang dewasa itu tidak menunggu dicintai terlebih dahulu oleh orang lain, namun mencintai terlebih dahulu. Jangan menunggu dicintai, baru bales mencintai, kalau seperti itu berarti masih level dagang, masih negosiasi.
Seharusnya kalau memang sudah cinta, kamu tidak memikirkan "akan ditolak atau diterima". Biarkan saja, itu tidak penting. Kalau kamu berpikir, "loh kalau ditolak berarti dia tidak jadi milik saya". Berarti tipe kamu, tipe orang yang penimbun, karena beranggapan cinta harus memiliki. Cinta diterima harus bersyukur, tidak diterima ya sukur juga. Fokusnya bukan kepada apa yang mencintai kita, namun kita yang mencintai dia.
Ciri cinta itu bukan mencari untung,ataupun meminta, namun justru memberi. Memberi tidak selamanya berarti berkorban, banyak orang yang salah paham dengan ini. Secara umum, memberi itu lawan kata dari menerima, berarti menganugerahkan sesuatu, yang awalnya kamu miliki, ya kamu berikan kepada dia.
Kalau dalam dagang, ketika kamu memberi disitu kamu berharap ada imbalannya, mendapat yang lebih banyak. Tidak hanya memberi begitu saja, harus menerima sesuatu atas balasan dari pemberian tersebut. Kalau kamu memberi tapi tidak menerima apa-apa berarti kamu ketipu. "Aku sudah memberikan kamu segalanya, tapi apa yang kamu berikan kepada ku." Itu kan keluhan orang yang dagang. Jadi seperti orang yang sedang mencari untung.
Selain itu, katanya Erich Fromm ada juga kelompok yang non-produktif. Yaitu mereka yang beranggapan bahwa pemberian dapat mengurangi sesuatu apa yang ada di dirinya. Pemberian itu maknailah secara produktif, jangan dilihat berkurangannya sesuatu dari dirimu. Karena hakitkatnya pemberian adalah bahwa kamu itu mampu, kamu punya sesuatu, kamu tidak dapat memberi jika kamu tidak memiliki. Jangan dihitung memberi sekian, lalu haus mendapatkan sekian pula. Dengan kamu memberi, dirimu terafirmasi, berarti dirimu mampu, dirimu kuat, dirimu penting, dirimu vital dan dirimu punya kapasitas. Ini yang menjadi rahasia.
Sama halnya dengan kamu beramal. Kenapa dalam islam orang disuruh bershodaqoh banyak-banyak. Tidak penting kamu ingin beramal sebanyak apa, jika kamu memberi 700 maka kamu akan mendapat 700.000. Karena yang terpenting adalah kamu punya sesuatu untuk memberi kepada orang lain. Hidupmu sudah memiliki arti, kmu sudah menjadi sesuatu. Memberi tidak harus dengan harta, dengan jasa, nasehatan bahkan senyuman pun boleh, dan sangat dibolehkan. Jangan disepelekan, memberi senyuman kepada orang lain itu juga sulit loh, tidak semua orang dapat memberi senyuman kepada orang lainnya. Bahkan antar dosen dan mahasiswa pun masih ada saja yang sulit untuk memberi senyuman. Ketika kita sudah memberi senyuman kepada orang lain, namun dianya tidak memberi senyuman kepada kita (dicuekin), tidak perlu takut, tidak perlu kesal. Tidak penting orang tersebut membelasa senyuman lagi apa tidak, yang terpenting kita menunjukkan bahwa aku ini ada, mampu dapat memberikan sesuatu, meskipun hanya memberi senyuman.
Jadi hakikanya cinta ada pada memberi, termasuk pula memberi kebahagaian, memberi restu kepada mantan pasangan kita kepada orang lain untuk menikah. tidak perlu khawatir, kan ada pepatah "kalau memang jodoh pasti bertemu dipelaminan".

Belum ada Komentar untuk "Bagaimana Cinta yang Dewasa Itu? - Erich Fromm"
Posting Komentar